Headlines News :
Home » » Gaya Bahasa

Gaya Bahasa

Diposting Oleh aosin suwadi pada Minggu, 04 Mei 2014 | 03.54

Gaya Bahasa

Majas sering dianggap sebagai sinonim dari gaya bahasa, namun sebenarnya majas termasuk dalam gaya bahasa. Majas adalah gaya bahasa atau bahasa kias untuk melukiskan sesuatu dengan jalan membandingkan, mempertentangkan, mempertautkan. Gaya bahasa adalah pengungkapan perasaan atau pikiran dengan menggunakan pilihan kata tertentu. Macam-macam gaya bahasa terdiri dar:

1.    Klimaks atau gradasi, adalah gaya bahasa berupa ekspresi dan pernyataan dalam rincian yang secara periodek makin lama makin meningkat, baik kuantitas, kualitas, intensitas, nilainya, seperti contoh berikut. Idealnya setiap anak Indonesia pernah menempuh pendidikan formal di TK, SD, SMP, SMA/SMK, syukur  S2, S3 sampai gelar Doktor dan kalau mengajar di Perguruan Tinggi bergelar Profesor/Guru Besar pula.
2.    Anti klimaks merupakan antonim dari klimaks adalah gaya bahasa berupa kalimat terstruktur dan isinya mengalami penurunan kualitas, kuantitas intensitas. Gaya bahasa ini di mulai dari puncak makin lama makin ke bawah, seperti contoh berikut.
Bagi milyader bakhil, jangankan menyumbang jutaan rupiah, seratus ribu, lima puluh ribu, sepuluh ribu, seribu rupiah pun ia enggan, masih dihitung-hitung. Jauh sebelum memperoleh mendali emas dalam Olimpiade Athena 2004 cabang bulutangkis, Taufik Hidayat niscaya telah menjadi juara nasional dan sebelumnya juga tingkat propinsi, kabupaten, malahan pula tingkat kecamatan, desa, RT/RW.
3.    Paralelisme adalah gaya bahasa berupa penyejajaran antara frase-frase yang menduduki fungsi yang sama, seperti contoh berikut.
Kriminalitas dan kemaksiatan itu akan menyengsarakan banyak orang, membuat menderita kurban-kurbannya.
4.    Repetisi adalah gaya bahasa dengan jalan mengulang pengunaan kata atau kelompok kata tertentu. , seperti contoh berikut.
a.      Seumpama merpati akulah kesetiaan yang tidak pernah ingkar janji. Seumpama samudra akulah kesabaran yang menampung keluh kesah segala muara. Seumpama embun akulah kesejukan yang membasuh hati yang lara.
5.    Aliterasi adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi konsonan, seperti contoh berikut.
Sahabatku bernama Fajar,  Firman,  Firdaus Filosofi.
Widyawan, Wisik , Wahyu,  Wastika,  suka menekuni spiritualitas. Jadilah jantan jujur jenius! Nama mahasiswi itu Cici Cantika Cangggih Cendikiawati
6.    Elipsis adalah gaya bahasa berupa penyusunan kalimat yang mengandung kata-kata yang sengaja dihilangkan yang sebenarnya bisa diisi oleh pembaca/penyimak, seperti contoh berikut.
Wajahmu memang cantik, tapi kelakuanmu ... Nilai keterampilanmu memang bangus tapi nilai matematikanya ....
7.    Eufemisme, adalah gaya bahasa berupa pengungkapan yang sifatnya menghaluskan supaya tidak menyinggung perasaan, tidak terasa tajam, seperti contoh berikut.
Karena perusahaan itu hampir bangkrut, banyak karyawan yang dirumahkan. Penduk Indonesia banyak yang mengalami gizi buruk. Anak itu tinggal kelas karena agak terlambat dalam mengikuti pelajaran.
8.    Litotes adalah gaya bahasa yang sifatnya merendahkan diri, tidak sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya namun tidak punya maksud agar orang percaya dengan hal itu, pembicara/penyimak tahu apa yang sebenarnya ia maksudkan, seperti contoh berikut.
Kalau Anda tidak keberatan, mampirlah ke gubug kami di Jalan Pemuda No. 100 Surakarta. Yogya-Solo terpaksa kita tempuh 2 jam karena kita hanya naik gerobak.
9.    Tautologi adalah sarana retorika yang menyatakan sesuatu secara berulang dengan kata-kata yang maknanya sama supaya diperoleh pengertian yang lebih mendalam, seperti contoh berikut. Tak badai tak ada topan, tiba-tiba saja ia marah.
10.    Pleonasme adalah sarana retorika semacam tautologi dengan kata kedua yang sudah dijelaskan oleh kata pertama, , seperti contoh berikut.
       Silakan maju ke depan, setelah itu naik ke atas.
11.    Erotesis/pertanyaan retoris adalah gaya bahasa berupa pengajuan pertanyaan untuk memperoleh efek mengulang tanpa menghendaki jawaban, karena jawabannya sudah tersirat di sana. Gaya bahasa ini acap digunakan oleh para orator, seperti contoh berikut.
Biaya pendidikan di Perguruan Tinggi sangat mahal. Bisakah rakyat kecil menyekolahkan anaknya sampai ke sana? Siapa yang bisa berkuliah kalau bukan kaum berada?
12.    Koreksio/Epanotesis adalah gaya bahasa berupa pernyataan yang terkesan meyakinkan, namun disadari mengandung kesalahan. Atas kesalahan itu lalu dilakukan pembetulan, seperti contoh berikut.
     Sudah setengah abad kita merdeka, eh bukan, 60 tahun malah, nah selama itu, kemajuan apasajakah yang sudah kita capai?
     Dalam dunia sastra, kita mengenal Pelopor Angkatan ’45 yaitu Rendra, ah bukan, bukan Rendra, yang benar adalah Chairil Anwar.
13.    Hiperbola adalah gaya bahasa berupa pernyataan yang sengaja dibesar-besarkan dan dibuat berlebihan, seperti contoh berikut.
Saya ucapkan beribu-rbu terima kasih atas perkenan Bapak dan Ibu menghadiri undangan panitia. Bertemu denganmu hatiku berbunga-bunga, sejuta rasa terbang melayang di angkasa bahagia.
14.    Paradoks adalah gaya bahasa berupa pernyataan yang mengandung kontras/pertentangan, namun ternyata mengandung kebenaran, seperti contoh berikut. Betapa banyak orang yang dalam kesendiriannya merasa kesepian di kota sehiruk-pikuk Jakarta.
15.    Simile /Persamaan adalah bahasa kiasan berupa pernyataan satu hal dengan hal lain dengan menggunakan kata-kata pembanding, seperti contoh berikut.
     Bersabarlah seperti samudra yang mampu menampug keluh kesah segala muara.
16.    Metafora adalah bahasa kiasan sejenis perbandingan namun tidak menggunakan kata pembanding. Di sini perbandingan dilakukan secara langsung tanpa kata sejenis bagaikan, ibarat, laksana, dan semacamnya, seperti contoh berikut. Kesabaran adalah bumi.
17.    Alegori adalah kata kiasan berbentuk lukisan/cerita kiasan, merupakan metafora yang dikembangkan, seperti contoh. Menuju Ke Laut
18.    Personifikasi/Penginsanan adalah gaya bahasa yang mempersamakan benda-benda dengan manusia, punya sifat, kemampuan, pemikiran, perasaan, seperti yang dimiliki dan dialami oleh manusia, seperti contoh berikut.
Angin bercakap-cakap dengan daun-daun, bunga-bunga, kabut dan titik embun. Bisikan angin itu menambah kepedihan hatiku. Indonesia menangis, duka nestapa Aceh memeluk erat sanubari bangsaku.
19.    Alusio adalah gaya bahasa yang menampilkan adanya persamaan dari sesuatu yang dilukiskan yang sebagai referen sudah dikenal pembaca, seperti contoh berikut.
Bung Karno – Bung Karno kecil menunjukkan kebolehannya dalam lomba pidato membawakan fragmen “Di Bawah bendera Revolusi”.
20.    Majas Sinekdoke :
a.    Pas pro toto,  yang menyatakan sebagian untuk keseluruhan, seperti contoh berikut. Rapat itu hanya dihadiri oleh kepala-kepalanya saja. Lama tak kelihatan batang hidungnya !
b.    Totem pro toto, yaitu menyatakan keseluruhan untuk sebagian, seperti contoh berikut. Pertandingan sepak bola antara Indonesia melawan Malaysia itu berakhir dengan kedudukan draw.
21.    Metonemia adalah bahasa kiasan dalam bentuk penggantian nama atas sesuatu, seperti contoh berikut. Kita harus bersyukur tinggal di negeri   Zamrud Khatulistiwa yang elok permai ini. Dia telah pergi ke negeri Gajah Putih.
22.    Ironi/sindiran adalah gaya bahasa berupa penyampaian kata-kata denga berbeda dengan maksud dengan sesungguhnya, tapi pembaca/pendengar, diharapkan memahami maksud penyampaian itu, seperti contoh berikut. Kuakui, kutu buku yang satu ini memang berpengetahuan luas sekali.
23.    Satire adalah gaya bahasa sejenis ironi yang mengandung kritik atas kelemahan manusia agar terjadi kebaikan . tidak jarang satire muncul dalam bentuk puisi yang mengandung kegetiran tapi ada kesadaran untuk berbenah diri, , seperti contoh berikut.
Aku lalai di pagi hari. Beta lengah di masa muda. Kini hidup meracun hati. Miskin ilmu miskin harta.



Ahli lain berpendapat bahwa gaya bahasa adalah pengungkapan perasaan atau pikiran dengan menggunakan pilihan kata tertentu. Dengan cara itu, kesan dan efek yang ditimbulkan dapat dicapai semaksimal mungkin. Gaya bahasa terbagi menjadi empat golongan:
A.       Gaya bahasa penegasan, terdiri dari:
1.       Repetisi, adalah gaya bahasa yang menegaskan sesuatu dengan mengatakannya secara berulang-ulang
2.       Anafora, pengulangan kata pada awal kalimat
3.       Epifora, pengulangan kata pada akhir kalimat
B.       Gaya bahasa perbandingan,terdiri dari:
1.       Hiperbola, adalah gaya bahasa yang mengungkapkan sesuatu secara berlebihan
2.       Metonimia, adalah gaya bahasa yang menamakan sesuatu dengan nama pabrik, merek, atau yang lainnya
3.       Personifikasi, adalah gaya bahasa yang membandingkan seolah-olah benda mati dapat bernyawa
4.       Metafora, adalah gaya bahasa yang membandingkan sesuatu secara langsung dengan singkat dan padat
C.       Gaya bahasa pertentangan, terdiri dari:
1.       Paradoks, adalah gaya bahasa yang isinya bertentangan dalam satu kalimat
2.       Antitesis, adalah gaya bahasa yang menggunakan paduan kata yang saling bertentangan
3.       Litotes, adalah gaya bahasa yang ditujukan untuk mengurangi makna yang sebenarnya
4.       Oksimoron, adalah gaya bahasa yang antara bagian-bagiannya saling bertentangan
D.       Gaya bahasa sindiran, terdiri dari:
1.       Ironi, adalah gaya bahasa yang mengatakan sesuatu dengan makna yang berlainan
2.       Sinisme, adalah gaya bahasa yang cara pengungkapannya lebih kasar dibandingkan ironi
3.       Sarkasme, adalah gaya bahasa yang sindirannya paling kasar dalam pengungkapannya

Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Popular Posts

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bahasa dan Sastra - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Aosin Suwadi