Headlines News :
Home » » Kode Cinta Vs Kode Etik

Kode Cinta Vs Kode Etik

Diposting Oleh aosin suwadi pada Jumat, 28 Februari 2014 | 00.04


Karya: Fitriyani
Kelas XII IPA 2 SMA Neeri 6 Kota Serang 2013/2014

Sudah lama sekali aku mendambakan menjadi seorang wartawan di sebuah stasiun TV swasta. Aku berencana untuk melanjutkan studiku mengambil jurusan bahasa Indonesia. Bilamana aku tak jadi wartawan, setidaknya aku bisa mendalami ilmu bahasa Indonesia. Aku suka sekali dengan bahasa Indonesia. Selain pelajarannya tidak terlalu memusingkan otakku, hal yang dipelajari juga sangat menarik. Contohnya saja membuat cerpen dan puisi, keduanya adalah hobiku yang menurutku tidak semua orang bisa melakukannya. “Orang yang sering membuat cerpen dan puisi itu biasanya daya imajinasinya sangat tinggi.” Ujar guru bahasa Indonesiaku.

Aku juga senang dengan dunia wartawan, yang kelihatannya mudah untuk dilakukan tapi membutuhkan kesabaran dan ketelatenan yang tinggi. Aku sering menghadiri acara-acara workshop seperti, “Aku Sang Jurnalis,” “Mari Menulis”. “Belajar menulis itu mengasyikkan lho!” Dan yang terakhir menghadiri seminar yang diadakan di sekolah sekaligus melakukan ujian praktik bahasa Indonesia. Banyak sekali ilmu yang aku dapat dari acara-acara tersebut. Sampai akhirnya aku merasa jenuh jika harus menggeluti ilmu kesastraan saja.
Aku punya cinta. Tapi entah kenapa, cintaku itu selalu kandas di perempat jalan, bahkan tak pernah merasakan yang namanya cinta yang sesungguhnya. Jika dikaitkan denan Jurnalistik, cinta itu seperti narasumber yang setiap wartawan ingin mewawancarainya. Jika di Jurnalistik atau di ilmu kewartawanan ada kode Etik, tapi di cinta disebut Kode Cinta. Sebenarnya, aku tak tau betul tentang cinta, yang aku tahu, cinta itu sulit dipelajari, dan aku muak dengan segala yang sulit dipelajari. Mungkin cinta bukan bahasa Indonesia yang selalu aku tuangkan dalam cerpen dan puisi. Tapi cinta itu adalah sumber inspirasiku saat sedang galau memikirkan apa yang harus ditulis di karangan cerpen dan puisiku.
Bicara soal Kode Etik dan Kode Cinta, menurutku banyak persamaannya. Keduanya sama-sama harus dipatuhi peraturannya, dan harus memiliki nilai keilmuan yang tinggi. Kode etik biasanya dlakukan oleh seorang wartawan, tapi kode cinta biasanya dilakukan oleh semua kalangan manusia di dunia. Contohnya ya... aku. Aku pernah melakukan yang namanya Kode Cinta. Aku suka dengan pria gagah, baik, berwibawa, dan mempunyai nilai atau kadar cinta yang tinggi, serta nilai kepekaan yang juga tinggi. Tapi disemua tipe yang aku sebutkan tadi, tak ada satupun pria yang nyaris seperti yang telah aku gambarkan. Selalu ada yang kurang dengan tipe yang aku inginkan. Orangnya ganteng, gagah, baik, tapi sayang dia tidak peka. Oleh karena itu aku gunakan jurus Kode Cinta, yang sebagaimana di dunia Wartawanan pun ada yang namanya Kode Etik. Sangat berbeda sekali. Jika kode Etik, melaksanakannya mudah, hanya mengikuti dan mematuhi pasal-pasal yang telah ditetapkan saja. Tapi Kode Cinta, sangat ribet dan memusingkan. Perlu keahlian khusus dan kreatif yang tinggi.
Supaya dia peka dengan perasaanku, dan semoga dia mencari jejakku di media sosial. Aku gunakan Kode Cinta pertamaku, yaitu menulis alamat email, Twitter, Facebook, Instagram, Line, Pin BB, Whats App, dan lain-lain di helm ku. Aku tahu, setiap berangkat sekolah, pasti dia di belakangku, sama-sama mengendarai motor. aku harap sih, dia meng-add salah satu yang menempel di helmku. Helm penuh  dengan stiker alamat social media yang gak jelas. Alhasil, bukannya berhasil, malah dapat usil dari orang-orang yang tak sengaja meng-add salah satu social media-ku. Kode Cinta pertama gagal. Aku coba kode cinta kedua yaitu “Intip Statusiasi”. Aku selalu mengintip Facebook dia, tak ada yang ter-update atau terbaru dengan status nya, yang ada hanya status yang dia posting selama 2 tahun kebelakang. Tapi anehnya, dia selalu aktif di facebook, hanya mungkin tak pernah dipublikasikan dan tidak bisa dibaca kalau bukan oleh teman yang sudah dikonfirmasinya. Kode Cinta kedua lumayan berhasil, tapi sayangnya, sekarang sudah ada link yang bisa mengintip siapa saja yang selalu intip facebook orang. Sampai akhirnya, dia menulis status “Nah, ketahuan juga kan nih orang yang suka ngintipin FB Gua. Haha. Gak tau malu!”. Meskipun aku tak tahu entah untuk siapa status itu, aku rasa cukup sampai di situ Kode Cinta “Intip Statusiasi” gagal.
Begitu pun Kode Cinta ketiga dan seterusnya, sama saja. Tak ada hasil secuil pun. Dia sungguh sulit untuk peka. Menginjak Kode Cinta yang ke 11 yaitu “Melakukan koreksi Semua Tentang Dia” sesuai dengan kode etik pasal 11 yaitu “Wartawan Indonesia Melayani Hak Jawab dan Hak Koreksi.” Ternyata hasil yang beredar tidak begitu mengecewakan, aku menyuruh temanku yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan rumah dia. Aku meminta bantuannya untuk mengetahui dan mengoreksi seperti apakah keseharian dia. Tidak begitu buruk, sedikit ada kemajuan, dengan Kode Cintaku yang ke sebelas.
Sejak itu, aku putuskan bahwa Kode Cinta buatanku yang termotivasi dengan Kode Etik pasal 11 itu menjadi awal perkenalanku. Sampai suatu hari, dia memenuhi hak jawab dan hak koreksi ku. Salah satu social media-ku dia ikuti. Aku dan dia sedikit lebih akrab, walaupun dia baru memenuhi Kode Cinta yang kesebelasku. Tapi aku yakin bisa membuat Kode Cinta yang lebih banyak lagi, sampai dia peka dengan perasaanku.
Ternyata sangat rumit sekali menjadi seorang Pecinta “Cinta” daripada pecinta “Wartawan atau Sastra.” Banyak hal yang tak jelas dan tak pasti didalam cinta, berbeda dengan sasta yang menjadikan kita cinta terhadap Nusa dan Bangsa. Lewat tulisan ini, aku jadikan sastra sebagai wadah penyanggah cintaku pada bangsa. Jangan takut salah dengan bahasa, karena disitulah kita bisa mengenal begitu banyak ragam tentang bahasa dan sastra.



Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Popular Posts

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bahasa dan Sastra - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Aosin Suwadi